Notulensi Kuliah Subuh 12 Mei 2026 oleh Ustadz Abbas Hafaz
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Allah berfirman dalam Surat al Hasy'r ayat 18:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡتَـنۡظُرۡ نَـفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ١٨
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Surat al Hasy'r ayat 19:
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ١٩
Artinya:
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.
Al-Qur'an surat Al-Hasyr ayat 18–19 berisi peringatan agar manusia selalu bertakwa dan mengevaluasi dirinya sebelum hari akhir.
Ayat 18 surat al Hasy'r
Intinya:
Orang beriman diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah.
Setiap orang harus memperhatikan “apa yang telah dipersiapkan untuk esok hari”, maksudnya amal untuk akhirat.
Ayat ini mengajarkan muhasabah (introspeksi diri), memperbaiki amal, dan tidak hidup lalai.
Pesan utamanya:
Seorang muslim tidak hanya memikirkan dunia sekarang, tetapi juga akibat amalnya di akhirat.
Ayat 19 surat al Hasy'r intinya:
Jangan seperti orang yang melupakan Allah.
Karena melupakan Allah membuat manusia lupa pada kebaikan dirinya sendiri: lupa tujuan hidup, lupa akhirat, dan mudah berbuat maksiat.
Orang seperti itu disebut sebagai orang fasik (keluar dari ketaatan).
Pesan utamanya:
Jika hubungan dengan Allah rusak, maka hidup manusia juga akan kehilangan arah.
Kesimpulan singkat
Ayat 18–19 mengajarkan:
- Bertakwa kepada Allah.
- Selalu introspeksi diri.
- Menyiapkan amal untuk akhirat.
- Jangan lalai mengingat Allah agar hidup tidak tersesat.
Inilah makna muhasabah dan introspeksi diri:
“Perhatikanlah apa yang telah engkau persiapkan untuk hari esok.”
Hari esok itu ada dua:
- Hari esok yang dekat, yaitu kehidupan dunia yang akan kita hadapi.
- Hari esok yang jauh, yaitu kehidupan akhirat.
Hari esok yang jauh adalah hari kiamat dan kehidupan setelahnya.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari esok” dalam ayat tersebut adalah hari kiamat beserta seluruh keadaan setelahnya.
Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk selalu bermuhasabah: menilai amalnya, memperbaiki kekurangannya, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk bertemu Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menahan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Adapun orang yang lemah (bodoh) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah.”
Hadis ini mengajarkan bahwa sebelum beramal, hendaknya kita selalu bermuhasabah: menilai dan mengoreksi diri.
Apakah amal ibadah yang kita laksanakan sudah sesuai dengan tuntunan Allah?
Ketika beramal pun, hendaknya kita melaksanakannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, karena amal yang benar adalah amal yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunnah Rasul-Nya.
Jika kita melihat amal kita belum sempurna, maka sempurnakanlah.
Jika kita merasa belum ikhlas, maka luruskan niat dan belajarlah untuk ikhlas dalam beribadah.
Sebab muhasabah bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi untuk mendorong kita terus memperbaiki diri agar amal kita diterima di sisi Allah.
Doa kafaratul majelis
سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ أشْهَدُ أنْ لا إِلهَ إِلاَّ أنْتَ أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ
Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu an-lâilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik.
Artinya: Maha Suci Engkau, ya Allah. Segala sanjungan untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Notulensi oleh: H. Samuel Abdurrahman